SEPAK-BOLA.ID — Wajah sepak bola Indonesia kembali tercoreng setelah kerusuhan suporter pecah dalam pertandingan Persijap Jepara vs Persis Solo pada lanjutan Super League 2025-2026.
Insiden tersebut memicu reaksi keras dari Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) yang menilai peristiwa itu seolah menunjukkan sebagian suporter melupakan tragedi besar yang pernah melanda sepak bola nasional.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyampaikan keprihatinannya atas bentrokan yang terjadi di luar Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Jawa Tengah, usai pertandingan pada Kamis, 5 Maret 2026.
Pertandingan tersebut berakhir imbang tanpa gol, namun ketegangan antarsuporter memicu kericuhan setelah laga selesai.
Arya menilai kejadian ini sangat disayangkan, terlebih karena sepak bola Indonesia pernah mengalami tragedi besar yang meninggalkan luka mendalam bagi dunia olahraga nasional.
"Ini suporternya lupa sama (Tragedi) Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga," kata Arya kepada wartawan, dikutip dari https://olahraga.incaberita.co.id/category/sepakbola/, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
Pelanggaran aturan tandang
Kericuhan yang terjadi semakin memprihatinkan karena muncul di tengah kebijakan larangan kehadiran suporter tim tamu yang masih diberlakukan. Menurut Arya, aturan tersebut seharusnya menjadi langkah pencegahan agar bentrokan antarsuporter tidak kembali terjadi.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat muncul optimisme untuk membuka kembali akses bagi suporter tandang setelah ada pertandingan yang berjalan kondusif. Namun, insiden di Jepara justru mematahkan harapan tersebut.
"Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh away (tandang), tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan away, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya'. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu. Ini tidak hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu," papar Arya.
Arya kembali menegaskan bahwa keselamatan penonton dan suporter harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan sepak bola. Ia mengingatkan kembali komitmen bersama yang pernah digaungkan setelah tragedi besar yang menimpa sepak bola nasional.
"Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka. Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kami tetap membuat larangan away," tambahnya.
Waspada tensi tinggi di akhir musim
Selain faktor rivalitas antarsuporter, Arya menilai situasi kompetisi yang semakin mendekati akhir musim juga berpotensi memicu ketegangan. Pada fase ini, banyak klub tengah berjuang keras untuk meraih gelar juara atau menghindari degradasi.
Situasi tersebut dapat memengaruhi emosi dan psikologi para suporter, sehingga berpotensi memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, PSSI kini tengah melakukan pembahasan serius bersama operator kompetisi iLeague serta pihak keamanan untuk mengantisipasi kemungkinan insiden serupa.
"Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir (musim). Jadi, ini kondisi rawan," tutur Arya.
Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan pengamanan pertandingan berjalan lebih ketat, terutama menjelang penentuan akhir kompetisi.
"Ini yang sedang kami diskusikan dengan ketat, mulai dari pak Rudi dari keamanan juga sangat ketat melakukan diskusi membicarakan lebih detail mengenai kondisi ini. Karena menuju akhir-akhir liga (Super League) sedikit rawan, baik dari Liga 1 (Super League) maupun Liga 2 (Championship) karena masalah promosi," pungkasnya.




