TpAoTSd9Gfd0TpW5TpY5GUz6Td==
Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Banner Ads 970x250
PSSI Isyaratkan Larangan Suporter Tandang Kembali Berlaku Musim Depan Pasca Kerusuhan Derby Jateng

PSSI Isyaratkan Larangan Suporter Tandang Kembali Berlaku Musim Depan Pasca Kerusuhan Derby Jateng

Kerusuhan Derby Jateng membuat PSSI mempertimbangkan kembali larangan suporter tandang musim depan jika insiden kekerasan antarsuporter terus terjadi.
Daftar Isi
×

PSSI Isyaratkan Larangan Suporter Tandang Kembali Berlaku Musim Depan Pasca Kerusuhan Derby Jateng

SEPAK-BOLA.ID — Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memberikan sinyal tegas terkait kemungkinan diberlakukannya kembali larangan suporter tandang pada kompetisi musim depan. Langkah ini dipertimbangkan setelah sejumlah insiden bentrokan antarsuporter masih terjadi sepanjang musim kompetisi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga. Ia menilai berbagai kericuhan yang muncul di beberapa pertandingan menjadi bukti bahwa kedewasaan sebagian suporter sepak bola Indonesia masih perlu dibenahi.

Insiden terbaru terjadi dalam laga bertajuk Derby Jawa Tengah (Jateng) antara Persijap Jepara melawan Persis Solo yang digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Jawa Tengah, pada Kamis (5/3/2026). Meski pertandingan berakhir tanpa gol dengan skor 0-0, ketegangan justru muncul setelah laga usai.

Kerusuhan Derby Jateng dilaporkan terjadi akibat saling ejek antara kelompok suporter di tribun stadion. Situasi tersebut kemudian memicu bentrokan yang berlanjut setelah pertandingan selesai.

Akibat insiden tersebut, sejumlah fasilitas mengalami kerusakan. Belasan kendaraan dilaporkan rusak, sementara tiga orang mengalami luka-luka.

Ancaman ketegasan federasi

Arya Sinulingga menegaskan, kejadian semacam ini tidak mencerminkan perubahan positif yang seharusnya terjadi setelah tragedi Kanjuruhan. Ia pun menyebut PSSI tidak akan ragu mengambil langkah tegas apabila situasi serupa terus berulang.

"Untuk musim depan? Kalau terus seperti ini terus, jangan salahkan federasi ketika itu diterapkan," tegas Arya kepada awak media, dikutip dari https://olahraga.incaberita.co.id/category/sepakbola/, Sabtu (7/3/2026).

Ia menilai perilaku sebagian suporter yang masih melakukan tindakan destruktif menunjukkan bahwa aturan yang lebih ketat mungkin kembali diperlukan.

"Karena kita tidak bisa disiplin dan tidak bisa menunjukkan bahwa kita mampu untuk itu, malu. Kita setiap pertandingan kursi dilempar-lempar, dibongkar, apa itu," tambahnya.

Evaluasi ketat di fase kritis kompetisi

Selain itu, Arya juga mengingatkan bahwa fase akhir kompetisi sering menjadi periode yang rawan terjadi gesekan antarsuporter. Hal tersebut disebabkan banyak klub yang sedang berjuang menentukan nasib mereka di klasemen.

Beberapa tim sedang bersaing memperebutkan gelar juara, sementara lainnya berupaya menghindari degradasi. Kondisi ini kerap membuat tensi pertandingan meningkat dan memengaruhi emosi para pendukung.

Karena itu, PSSI kini tengah melakukan pembahasan intensif terkait langkah antisipasi bersama operator kompetisi, iLeague, serta pihak keamanan.

"Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir (musim). Jadi, ini kondisi rawan," tutur Arya.

Ia menambahkan, berbagai pihak terkait termasuk unsur keamanan juga dilibatkan dalam pembahasan tersebut guna memetakan potensi kerawanan di sisa kompetisi.

"Ini yang sedang kami diskusikan dengan ketat, mulai dari pak Rudi dari keamanan juga sangat ketat melakukan diskusi membicarakan lebih detail mengenai kondisi ini. Karena menuju akhir-akhir liga (Super League) sedikit rawan, baik dari Liga 1 (Super League) maupun Liga 2 (Championship) karena masalah promosi," pungkasnya.

Banner Ads
Banner Ads 300x600
Banner Ads
CLOSE ADS
Ads Banner 160x600
CLOSE ADS
Ads Banner 160x600
CLOSE ADS
Banner Ads 970x90