SEPAK-BOLA.ID — Kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Inggris, Premier League, kembali menerapkan kebijakan khusus selama bulan suci Ramadan musim 2025–2026. Aturan ini memungkinkan pertandingan dihentikan sejenak agar pemain Muslim dapat berbuka puasa ketika waktu magrib tiba.
Melansir laporan https://olahraga.incaberita.co.id/category/sepakbola/liga-inggris/, kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 17 Februari 2026 dan menjadi bentuk penghormatan terhadap pemain yang menjalankan ibadah puasa. Wasit bersama kapten tim diberi kewenangan untuk menghentikan pertandingan secara singkat, sehingga para pemain dapat mengonsumsi minuman atau suplemen energi di pinggir lapangan sebelum melanjutkan laga.
Aturan ini bukan hal baru di kompetisi sepak bola Inggris. Sejak beberapa musim terakhir, liga telah berupaya memberikan ruang bagi pemain Muslim agar tetap dapat menjalankan kewajiban agama tanpa harus mengorbankan performa di lapangan.
Teknis penghentian pertandingan
Selama Ramadan 2026 yang berlangsung dari 17 Februari hingga 19 Maret, jeda pertandingan hanya akan dilakukan apabila waktu kick-off berdekatan dengan matahari terbenam di Inggris.
Umumnya, waktu magrib di wilayah Inggris berada pada kisaran pukul 17.00 hingga 19.00 GMT. Karena itu, laga yang kemungkinan terdampak adalah pertandingan Sabtu sore yang biasanya dimulai pukul 17.30 waktu setempat serta pertandingan Minggu sore sekitar pukul 16.30.
Dalam penerapannya, wasit tidak akan menghentikan pertandingan secara mendadak ketika bola masih aktif dimainkan. Penghentian sementara hanya dilakukan saat terjadi momen alami dalam pertandingan, seperti tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau tendangan bebas.
Selama jeda singkat tersebut, pemain Muslim diperbolehkan mengonsumsi air minum atau gel energi untuk memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa. Beberapa pemain yang diperkirakan memanfaatkan aturan ini antara lain Mohamed Salah, William Saliba, hingga Amad Diallo.
Namun demikian, liga menegaskan bahwa jeda ini tidak boleh dimanfaatkan oleh pelatih untuk memberikan instruksi taktis kepada pemain. Artinya, penghentian tersebut bukanlah tactical time-out, melainkan murni untuk memberikan kesempatan berbuka puasa.
Dukungan klub demi menjaga performa pemain
Kebijakan jeda berbuka puasa ini sebenarnya sudah mulai diperkenalkan sejak April 2021. Saat itu, aturan serupa diterapkan dalam pertandingan antara Leicester City melawan Crystal Palace.
Dalam laga tersebut, dua pemain yakni Wesley Fofana dan Cheikhou Kouyate menjadi pemain pertama yang mendapatkan kesempatan berbuka puasa di tengah pertandingan.
Seiring berjalannya waktu, klub-klub peserta liga Inggris juga semakin adaptif dalam memberikan dukungan kepada para pemainnya yang menjalankan ibadah puasa.
Sebagai contoh, Liverpool FC pernah menyesuaikan jadwal latihan tim agar lebih selaras dengan kondisi fisik pemain yang sedang berpuasa. Penyesuaian tersebut dilakukan demi menjaga kebugaran sekaligus memastikan pemain tetap dapat berlatih secara optimal.
Selain itu, sejumlah klub juga menyiapkan menu makanan halal yang dikelola oleh koki tim untuk memastikan kebutuhan nutrisi para pemain Muslim terpenuhi dengan baik.
Mantan gelandang Everton FC, Abdoulaye Doucoure, sebelumnya pernah menyoroti pentingnya dukungan tersebut bagi para pemain Muslim yang berkarier di Inggris. Ia menilai lingkungan sepak bola di negara tersebut cukup menghargai keberagaman keyakinan para pemain.
Dengan adanya kesempatan berbuka puasa di tengah pertandingan, pemain Muslim diharapkan tetap mampu menjaga kondisi fisik mereka. Asupan cairan dan nutrisi yang dikonsumsi saat jeda singkat tersebut menjadi faktor penting agar mereka tetap tampil maksimal meskipun telah menahan lapar dan haus selama berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung.




