TpAoTSd9Gfd0TpW5TpY5GUz6Td==
Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Banner Ads 970x250
Exco PSSI Soroti Insiden Rasisme Usai Laga Persebaya vs Persib

Exco PSSI Soroti Insiden Rasisme Usai Laga Persebaya vs Persib

Exco PSSI menyoroti insiden rasisme usai laga Persebaya vs Persib. Arya Sinulingga menilai tindakan tersebut tidak sehat bagi sepak bola Indonesia.
Daftar Isi
×

Exco PSSI Soroti Insiden Rasisme Usai Laga Persebaya vs Persib

SEPAK-BOLA.ID — Insiden rasisme yang mencuat setelah pertandingan panas antara Persebaya Surabaya vs Persib Bandung di Super League 2025-2026 menuai sorotan dari petinggi PSSI. Anggota Komite Eksekutif PSSI (Exco PSSI), Arya Sinulingga, mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada Senin malam, 2 Maret 2026 WIB, berakhir dengan skor imbang 2-2. Duel dua tim besar ini berlangsung ketat sejak menit awal hingga peluit akhir, memperlihatkan tensi tinggi khas laga klasik sepakbola Indonesia.

Namun, suasana panas di lapangan rupanya berlanjut ke media sosial. Sejumlah komentar bernada rasis dilaporkan menyerang dua pemain muda yang terlibat dalam momen gesekan di pertandingan tersebut.

Dua pemain jadi sasaran rasisme

Insiden bermula dari adu tensi antara Mikael Alfredo Tata dan Kakang Rudianto di tengah pertandingan. Benturan emosional antar pemain sebenarnya lazim terjadi dalam pertandingan kompetitif.

Sayangnya, situasi itu memicu reaksi berlebihan dari sebagian oknum suporter di media sosial. Kedua pemain muda yang juga memperkuat Timnas Indonesia tersebut justru menjadi target komentar rasis.

Diduga, serangan rasis itu datang dari oknum suporter masing-masing tim yang tersulut emosi akibat persaingan di lapangan.

Arya Sinulingga mengaku sedih

Menanggapi hal tersebut, Arya Sinulingga mengungkapkan rasa kecewanya. Ia menilai sepakbola seharusnya menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai sportivitas sekaligus melawan segala bentuk diskriminasi, termasuk rasisme.

“Itu yang kami cukup sedih. Sebenarnya di dunia sepakbola fair play-nya kuat. Sepakbola itu fair play. Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepakbola. Jadi, kenapa terlalu gampang tangan untuk menulis ataupun omongan terlalu gampang untuk rasis,” kata Arya, dikutip dari https://olahraga.incaberita.co.id/, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Arya, fenomena tersebut terasa ironis. Pasalnya, selama ini masyarakat Asia, termasuk Indonesia, justru kerap menjadi korban tindakan rasis di berbagai negara.

“Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu. Di dunia itu orang di Asia itu lebih sering kena rasis, tapi sekarang kenapa kita jadi rasis. Jadi, itu jadi pertanyaan yang aneh, kok bisa,” ujar Arya.

Imbau suporter lebih dewasa

Lebih lanjut, Arya berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Ia mengajak para suporter untuk lebih dewasa dalam menyikapi dinamika pertandingan, terutama dalam mengekspresikan pendapat di media sosial.

Menurutnya, komentar bernuansa kebencian atau rasis hanya akan merusak citra sepakbola nasional yang selama ini berupaya menjunjung tinggi sportivitas dan persatuan.

“Jadi, kami harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepakbola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir. Ini gampang sekali menulis tanpa berpikir,” pungkas Arya.

Banner Ads
Banner Ads 300x600
Banner Ads
CLOSE ADS
Ads Banner 160x600
CLOSE ADS
Ads Banner 160x600
CLOSE ADS
Banner Ads 970x90